Showing posts with label Tokoh Periklanan. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Periklanan. Show all posts

Pendiri Matari Advertising

Thursday, June 23, 2011

Dia tokoh periklanan Indonesia. Bahkan pantas digelari legenda hidup periklanan Indonesia. Ken, panggilan akrab Kenneth Tjahjady Sudarto, salah seorang perintis periklanan Indonesia. Pendiri Matari Advertising, ini memulai usahanya dari garasi di kawasan Cideng sampai memiliki gedung megah Puri Matari di segitiga emas Kuningan.

Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005.

Ken meninggal setelah setahun lebih berjuang melawan penyakit lymphoma (kanker kelenjar getah bening). Dia meninggalkan seorang isteri, Sylvie Febryanti Sudarto, dan tiga anak Michael Dirgo Sudarto, Glenn Ario Sudarto dan Cynthia Anggraini Sudarto, serta tiga orang cucu Allegra Divya, Alexa Kirana, dan Tristan Ario.

Jenazah Presiden Komisaris Kelompok Matari Advertising itu tiba di Bandara Soekarno Hatta dari Singapura sekitar pukul 20.00, Sabtu 5 November 2005. Selanjutnya dibawa ke Puri Matari di kawasan Kuningan. Di sana para karyawan dan staf memberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, iring-iringan mobil jenazah menuju ke rumah almarhum di Jl Kemang Timur IV. Selanjutnya dibawa ke rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat.

Tampaknya, sampai ajal menjemputnya dia terus berjuang. Sebelum meninggal, dari CCU Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Ken mengirim SMS kepada stafnya berbunyi: ”Hidup adalah bagaikan bendera perang. Kadang-kadang berkibar megah, menantang. Kadang-kadang kotor, robek-robek, dan hampir jatuh ke tangan musuh. Tapi harus tetap dipertahankan dengan gagah berani, sampai ke tangan Tuhan”.

Perjuangannya dalam dunia periklanan dimulai dari garasi di kawasan Cideng dengan dua orang pegawai. Sebelum mendirikan Matari (Agency Representative Matari Advertising, 1970-1971), Ken meniti karir sebagai Manager US Summit Corporation (1964-1968), Wiraswasta (1968-1969) dan Staf Lokal Ubersee Handel AG (1969-1970). Kemudian sejak 1971 dia menjabat Presiden Direktur Matari Inc, perusahaan periklanan yang semula bekerjasama dengan Mark Lean Advertising. Setelah dua tahun kemudian memisahkan diri.

Kemudian Matari sepenuhnya menggunakan tenaga ahli Indonesia, karena menganggap merekalah yang lebih mengenal negeri ini. Modalnya juga domestik.
Sempat mengalami masa sulit tahun 1975-1976, lantaran dia mencoba berspekulasi di luar bidang periklanan. Lalu mendapat bantuan dari klien lama. PT Astra dan Konimex dengan membayar di muka, serta harian Sinar Harapan dan Surabaya Post bersedia menunda penagihan. Ditambah lagi suntikan modal dari Paul Karmadi, temannya sejak kecil, dengan membeli 30% dari seluruh saham.

Perusahaan ini kemudian berkembang pesat., menjadi biro iklan paling lengkap di Indonesia. Matari Inc ini memiliki studio foto, amphi-theater, studio rekaman modern, perpustakaan, dan fasilitas komputer.

Juga memiliki kantor di gedung sendiri, Puri Matahari berlantai empat, di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Serta mempekerjakan sekitar 200 karyawan.
Biro iklan ini setidaknya melayani sekitar 30-an klien setiap tahun. Di antaranya Toyota, Mitsubishi, Honda, Daihatsu, SIA, Cathay, Garuda, Fuji, Kodak, National, Sony, ITT, Unilever, BCA, dan lain-lain. Dari setiap klien, Matari menarik agency fee 15%sampai 20%.

Sulung dari lima bersaudara (Ken, Imelda, Berty, Liza dan Bambang), putera dari So Ping Hian (ayah) dan Setiawati K Sudarto (lo Bie Lan, Ibu) pedagang kelontong, ini lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942. Mengecap pendidikan SR, Jalan Sabang, Jakarta (1954), SMP Kanisius, Jakarta (1957) dan SMAK I, Jakarta (1960).
Sempat kuliah di FE UI, Jakarta, sampai tingkat IV, 1965. Kemudian belajar manajemen (Smaller Company Management Program) di Harvard Business School, AS (1982), Indonesian Senior Executive Program VI di Insead-Fountain- Bleau, Prancis (1981) dan Managing Strategic Changes di Imede-LPPM, Jakarta (1981).

Penggemar musik klasik dan pop serta olahraga jogging, renang, dan bulu tangkis, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005. Disemayamkan di rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat. Setelah dilakukan Misa Requiem, tiga hari berturut-turut, 6, 7 dan 8 November 2005, jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu 9 November 2005, pukul 09.30 Wib.

Panca Cita

Ketika banyak perusahaan belum menyadari arti penting dari suatu visi dan misi perusahaan, ia telah menciptakan Panca Cita Matari yang akan menjadi suluh penerang bagi perjalanan bisnisnya. Panca Cita ini diberlakukan pada saat Matari berusia sembilan tahun dan Ken Sudarto berusia 38 tahun.

Kelima cita yang menjadi pematok langkah Matari sarat dengan idealisme, profesionalisme, dan semangat kekeluargaan. Cita pertamanya: Berpartisipasi dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab. Pendiri Matari sangat menyadari sebagai perusahaan yang beroperasi di negara berkembang, perusahaan ikut bertanggung jawab dalam upaya perwujudan suatu masyarakat Indonesia yang sejahtera, kami akan secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan nasional, terutama dalam bidang periklanan.

Cita kedua: Mengabdi kepentingan masyarakat. Kegiatan Matari dalam bidang periklanan akan dilakukan secara kreatif, menciptakan karya yang bermutu, jujur, serasi dengan lingkungan, sehingga sungguh-sungguh mencerminkan pengabdian kepada kepentingan masyarakat.

Cita ketiga: Menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan. Dari awal Matari dirancang sebagai suatu keluarga besar yang dipadukan dalam satu organisasi bisnis. Di mana perusahaan akan senantiasa memperjuangkan terciptanya suasana kerja yang sesuai dan menyenangkan menuju peningkatan taraf ketrampilan dan kehidupan.

Cita keempat: Menghasilkan pendapatan yang dapat membiayai pengembangan dan kelangsungan hidup perusahaan. Berikutnya demi kelangsungan hidupnya perusahaan, menjadi penting untuk terus menerus mengusahakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan laba untuk para pemegang saham, serta melakukan investasi untuk perluasan usaha.

Cita kelima: Memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Untuk menjamin adanya kegairahan dan ketentraman kerja, perusahaan akan memberikan imbalan yang wajar serta kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang sesuai dengan kemampuan kami masing-masing.
Kelima cita ini telah menjadi pembimbing tindak dari Matari Advertising dalam setiap langkahnya. "Panduan semacam ini memungkinkan Matari memiliki nilai-nilai ideologis yang akan terus membimbingnya ke masa depan," tutur Aswan Soendojo, yang menerima tongkat estafet untuk melanjutkan kepemimpinan di Matari.

Perjalanan Matari Advertising sesungguhnya mencerminkan perjalanan industri periklanan Indonesia. Banyak terobosan penting di industri periklanan muncul dari kiprah Matari, khusus lagi dari tangan Ken Sudarto. Ketika ia memutuskan untuk lengser dari Matari, bulan Maret lalu, maka menjadi penting bagi kami untuk menuliskan suatu commemorative report mengenai kiprahnya di industri periklanan. Tanpa sentuhan tangannya, majalah yang kini Anda pegang mungkin tak akan pernah lahir ke dunia. e-ti/tsl, dari berbagai sumber.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/158-biografi/1494-pendiri-matari-advertising
.


Baca artikel selengkapnya ....

Sekilas Sejarah Periklanan Di Indonesia

Saturday, January 2, 2010

Tokoh periklanan pertama di Indonesia adalah Jan Pieterzoon Coen, orang Belanda yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1619-1629. Tokoh ini bukan hanya bertindak sebagai pemrakarsa iklan pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai pengiklan dan perusahaan periklanan. Bahkan dia pun menjadi penerbit “Bataviasche Nouvelle”, suratkabar pertama di Indonesia yang terbit tahun 1744, satu abad setelah J.P. Coen meninggal.

Iklan pertama yang diprakarsai J.P. Coen berupa pengumuman-pengumuman pemerintah Hindia Belanda berkaitan dengan perpindahan pejabat terasnya di beberapa wilayah. Namun dengan penerbitan suratkabar pertama yang memuat iklan itu, J.P. Coen membuktikan, bahwa pada hakekatnya untuk produk-produk baru, antara berita dan iklan tidak ada bedanya. Atau, bahwa berita pun dapat disampaikan dengan metode dan teknik periklanan. Kenyataan itu membuktikan pula, bahwa iklan dan penerbitan pers di Indonesia, sebenarnya lahir tepat bersamaan waktunya, dan keduanya saling membutuhkan atau memiliki saling ketergantungan.

Pada masa Hindia Belanda, belum ada pemisahan yang jelas antara fungsi-fungsi penerbit, percetakan dan perusahaan periklanan. Antara tahun 1868-1912, di Batavia, orang-orang Eropa telah memiliki 14 penerbitan pers. Karena di masa itu setiap percetakan hanya mencetak satu penerbitan pers, maka berarti terdapat jumlah yang sama percetakan pers yang dimiliki oleh orang-orang Eropa atau keturunan Eropa. Penerbitan-penerbitan ini bervariasi dari yang berkala harian, mingguan, dwimingguan maupun bulanan.

Di luar Batavia, tercatat 6 suratkabar yang terbit di Surabaya dan satu di Jawa Tengah. Ini semua dimiliki dan dikelola oleh orang-orang Eropa. Pada perusahaan-perusahaan periklanan milik orang-orang Eropa itu, memang banyak juga dipekerjakan orang-orang Cina atau pribumi. Dua kelompok terakhir ini hanya sebagai copywriter (penulis naskah) untuk perusahaan periklanannya, atau tenaga keredaksian di penerbitan pers mereka. Setelah orang-orang Eropa, orang-orang Cina atau keturunan Cina menjadi kelompok yang paling dominan menguasai periklanan. Sedangkan kelompok pribumi umumnya tidak memiliki sendiri percetakan atau penerbitan pers, ataupun hanya mengelola perusahaan-perusahaan periklanan yang relatif kecil.

Praktisi periklanan sebagai tenaga spesialis yang khusus didatangkan dari Belanda yang terkenal di zamannya adalah “tiga-serangkai”; F. Van Bemmel, Is. Van Mens dan Cor van Deutekom. Mereka ini didatangkan atas biaya BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) dan General Motors yang perlu mempromosikan produk-produk mereka. Ketiga orang ini bergabung dalam Aneta, perusahaan periklanan terbesar saat itu. Pada tahun 1901 salah satu dari anggota tiga-serangkai ini, Bemmel, diminta oleh redaktur suratkabar De Locomotief untuk mengelola perusahaan periklanan milik suratkabar tersebut, yang juga bernama De Locomotief. Suratkabar De Locomotief sendiri terbit sejak tahun 1870 di Semarang. Tahun 1902, hanya satu tahun sejak kedatangannya ke Batavia, Bemmel hengkang untuk mendirikan perusahaan periklanan sendiri. Perusahaan periklanan ini diberinya nama NV Overzeesche Handelsvereeniging. Perusahaan periklanan ini utamanya menangani produk-produk impor, seperti mobil dan sepeda.

Pada tahun 1910 Bemmel kembali ke negeri Belanda. Tidak diketahui alasan kepindahannya itu, namun di negeri Belanda ia kemudian berganti profesi. Uang yang dihimpunnya selama memiliki perusahaan periklanan di Hindia Belanda rupanya cukup untuk mendirikan sebuah bank.
(dihimpun dari berbagai sumber)
.


Baca artikel selengkapnya ....

Definisi Iklan

Tuesday, December 8, 2009

Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seseorang calon pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, untuk memenangkan dukungan publik agar berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.

Menurut Paul Copley, "advertising is by and large seen as an art – the art of persuasion – and can be defined as any paid for communication designed to inform and/ or persuade". Dijelaskan bahwa iklan adalah sebuah seni dari persuasi dan dapat didefinisikan sebagai desain komunikasi yang dibiayai untuk menginformasikan dan atau membujuk.

Dari beberapa pengertian diatas, pada dasarnya iklan merupakan sarana komunikasi yang digunakan komunikator dalam hal ini perusahaan atau produsen untuk menyampaikan informasi tentang barang atau jasa kepada publik, khususnya pelanggannya melalui suatu media massa. Selain itu, semua iklan dibuat dengan tujuan yang sama yaitu untuk memberi informasi dan membujuk para konsumen untuk mencoba atau mengikuti apa yang ada di iklan tersebut, dapat berupa aktivitas mengkonsumsi produk dan jasa yang ditawarkan.


Baca artikel selengkapnya ....

Kelemahan Umum Media Cetak Sebagai Media Iklan

Sunday, December 6, 2009

Menurut Eric Barnow, media cetak (the printed page) sebagai media penyampai pesan yang berujud cetak mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
1. Media cetak (The printed page) tidak mempunyai suara, jadi tidak bisa menimbulkan kesan akrab sehingga kurang mampu menggugah emosi.
2. Yang bisa dicapai oleh media cetak (printed page) hanyalah mereka yang bisa membaca, bahkan dalam media cetak (printed page) tertentu pembacanya adalah orang–orang yang berpendidikan.
3. Karena media cetak dicetak, maka media cetak menghendaki untuk dibaca.
4. Jika radio, TV dan sebagainya bisa dinikmati oleh dua orang atau lebih secara bersama–sama, maka pada media cetak, hal ini kurang leluasa untuk dilakukan.

Mengingat beberapa kelemahan media cetak seperti diatas, maka para pemasang iklan yang menggunakan media cetak sebagai media penyampai pesan–pesan iklannya harus meramu kata dan kalimat, juga punya kemampuan lebih dalam memvisualisasikan produk. Gambar (visual) dan kata inilah yang diharapkan mampu mempengaruhi target audience sehingga berbuat sebagaimana yang disarankan oleh produsen barang dan jasa (pemasang iklan).


Baca artikel selengkapnya ....

Pengertian Iklan

Friday, December 4, 2009

Asal muasal istilah iklan atau advertising dijelaskan oleh seorang ahli periklanan terkenal, Otto Klepper, dalam bukunya yang berjudul "Advertising Procedure". Dalam bukunya tersebut, dituliskan bahwa advertising berasal dari bahasa latin yaitu ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada pihak lain. Jadi pengertian seperti ini sebenarnya tidak ubahnya dengan pengertian komunikasi sebagaimana halnya dalam ilmu komunikasi.

Istilah iklan juga sering dinamai dengan sebutan yang berbeda-beda. Di Amerika sebagaimana halnya di Inggris, disebut advertising. Sementara di Perancis disebut dengan reclamare yang berarti meneriakkan sesuatu secara berulang-ulang.

Sebenarnya di Indonesia sendiri istilah iklan sering juga disebut dengan istilah lain yaitu advertensi dan reklame. Kedua istilah tersebut diambil begitu saja dari bahasa aslinya yaitu bahasa Belanda dan Perancis (reclame). Namun, sebutan kata iklan lebih sering digunakan dibanding dengan istilah advertensi dan reklame.


Baca artikel selengkapnya ....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Academics Blogs Academics Top Blogs blogarama - the blog directory Submit your website to 20 Search Engines - FREE with ineedhits! Media Promosi

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP