Showing posts with label Efektifitas Iklan. Show all posts
Showing posts with label Efektifitas Iklan. Show all posts

Merancang Program Periklanan yang Efektif

Friday, June 8, 2012

Periklanan (advertising) adalah semua bentuk penyajian dan promosi non-personal tentang gagasan, barang atau jasa, yang dibayar oleh satu sponsor/pihak tertentu. Dalam perusahaan yang kecil, periklanan ditangani oleh seseorang dalam departemen pemasaran yang bekerja dengan agen periklanan, sedangkan di perusahaan yang besar ada departemen periklanan tersendiri dimana manajer departemen periklanan tersebut bertanggung jawab pada direktur marketing.

Pengembangan program periklanan diawali dengan mengidentifikasikan target pasar dan motif pembeli, kemudian baru membuat 5 keputusan utama dalam program periklanan dinamakan 5 M :
* Mission (misi) yaitu tujuan dari periklanan.
* Money (uang) yaitu besarnya pengeluaran untuk periklanan.
* Message (pesan) yaitu pesan apa yang akan disampaikan.
* Media (media) yaitu media apa yang seharusnya digunakan.
* Measurement (pengukuran) yaitu bagaimana seharusnya hasil periklanan itu dievaluasi.

1. Penetapan Tujuan Periklanan
Tujuan periklanan harus berasal dari target pasar, market positioning dan bauran pemasaran. Tujuan periklanan dapat dikasifikasikan berdasarkan maksudnya, yaitu:

a. Periklanan informatif (informative advertising) dimaksudkan sebagai tahap pelopor dari kategori produk untuk membangun permintaan awal. Periklanan informatif yang mungkin:
* Memberitahu pasar tentang satu produk baru dan membangun citra (image) perusahaan.
* Menyarankan penggunaan baru dari satu produk.
* Menginformasikan pasar tentang perubahan harga, dan sebagainya.

b. Periklanan persuasif (persuasive advertising) dimaksudkan untuk membangun "permintaan selektif" untuk satu brand tertentu, merupakan sebagian besar yang digunakan dalam periklanan. Beberapa periklanan persuasif telah bergeser ke arah periklanan perbandingan (comparison adverting) yang bermaksud membangun superioritas satu brand melalui perbandingan spesifik dengan satu atau lebih brand lainnya dalam kelas produk yang sama. Contoh periklanan persuasif:
* Membangun brand preference atau mendorong untuk pindah ke brand kita.
* Membujuk pembeli untuk membeli sekarang.
* Mengubah persepsi pembeli tentang atribut dari produk.

c. Periklanan yang mengingatkan (reminder advertising) dimaksudkan untuk mengingatkan orang dengan satu produk yang sudah mature. Satu bentuk periklanan yang berhubungan dengan ini adalah periklanan penguatan (reinforcement advertising) yang menjamin pembelian yang sekarang pembeli lakukan adalah pilihan yang tepat. Contoh periklanan yang mengingatkan:
* Mengingatkan pembeli bahwa satu produk akan diperlukan di masa mendatang.
* Mengingatkan pembeli tentang tempat membeli produk tersebut.
* Memelihara ingatan tentang produk tersebut selama musim lesu penjualan.

2. Memutuskan Anggaran Periklanan
Empat metode yang biasa digunakan dalam penetapan anggaran periklanan telah dibahas sebelumnya, dan yang paling disukai adalah metode tujuan dan tugas (objective-and-task method) karena mensyaratkan pengiklan untuk mendefinisikan tujuan spesifik dari periklanan dan memperkirakan biaya untuk aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Ada 6 faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran periklanan:
* Tahap dalam Siklus Hidup Produk : produk baru biasanya memerlukan anggaran yang lebih besar ketimbang produk yang sudah dikenal brand-nya.
* Pangsa Pasar dan Basis Konsumen : brand yang pangsa pasarnya tinggi memerlukan anggaran, sebagai persentase dari penjualan, yang lebih rendah dibanding yang pangsa pasarnya rendah.
* Persaingan dan Pengelompokkan : dalam pasar yang banyak pesaingnya dan pengeluaran iklannya tinggi memerlukan anggaran yang lebih tinggi dibanding yang kurang pesaing dan kurang beriklan.
* Frekuensi Periklanan : banyaknya pengulangan yang diperlukan untuk menyampaikan pesan brand.
* Kemampuan Substitusi Produk : semakin banyak substitusi suatu produk makin besar anggarannya.
* Karakteristik-karakteristik Pasar : pada beberapa masyarakat tidak terlalu mementingkan berapa banyak atau frekuensi dari iklan, tetapi lebih mementingkan informasi yang bisa didapatkan.

Sumber : http://www.angelfire.com/


Baca artikel selengkapnya ....

Mengevaluasi Efektivitas Periklanan

Monday, June 4, 2012

Kebanyakan uang yang dihabiskan oleh agen iklan adalah pada masa percobaan iklan dan sangat sedikit untuk mengevaluasi iklan tersebut. Padahal sebaiknya perusahaan mengiklankan dahulu di satu kota, mengevaluasi hasil/efeknya, baru jika berhasil beriklan secara nasional atau internasional. Ada dua efek iklan, yaitu efek komunikasi (communication effect) dan efek penjualan (sales effect) yang kedua-duanya dapat diteliti.

* Penelitian Efek Komunikasi
Penelitian efek komunikasi berusaha mengetahui apakah iklan yang dibuat dapat berkomukasi secara efektif. Ada metode yang disebut copy testing, yang dapat dilakukan sebelum dan sesudah ikan dipasang di media.

Ada 3 metode utama untuk pengujian awal dari iklan yaitu:

1. Metode pemeringkatan langsung (direct rating method), yaitu metode yang menanyakan konsumen untuk memeringkat iklan yang dipasang. Rating digunakan untuk mengevaluasi perhatian terhadap iklan, pembacaan iklan, pengertian, pengaruh dan kekuatan tingkah laku. Semakin tinggi rating biasanya semakin efektif iklan tersebut.

2. Pengujian portofolio (portfolio tests) menanyakan konsumen untuk melihat dan atau mendengar sekumpulan (portfolio) iklan, berbicara selama yang mereka inginkan. Kemudian konsumen tersebut ditanyakan untuk menyebutkan kembali semua iklan tersebut dan isinya, ditambah, sama atau dikurangi oleh si penanya (interviewer). Tingkat penyebutan kembali ini menunjukkan kemampuan iklan untuk bertahan dan menyampaikan pesan yang dapat dimengerti dan diingat.

3. Pengujian laboratorium (laboratory tests) menggunakan peralatan untuk mengukur reaksi psikologis konsumen seperti detak jantung, tekanan darah, pelebaran pupil, keringat terhadap suatu iklan. Pengujian ini mengukur kekuatan menarik perhatian dari iklan tersebut tetapi tidak menunjukkan sama sekali pengaruh iklan terhadap kepercayaan, sikap atau minat.

# Penelitian Efek Penjualan
Efek penjualan iklan biasanya lebih sukar diukur dibandingkan dengan efek komunikasi. Penjualan dipengaruhi banyak faktor disamping periklanan, seperti ciri produk, harga, ketersediaan dan kegiatan pesaing. Semakin sedikit atau semakin dapat dikendalikan faktor-faktor tersebut, semakin mudah untuk mengukur efek iklan terhadap penjualan. Efek penjualan paling mudah diukur pada situasi pemasaran langsung dan paling sukar diukur pada iklan untuk membangun citra brand atau perusahaan.

Satu pendekatan untuk mengetahui apakah perusahaan telah terlalu lebih atau kurang dalam menghabiskan uang untuk iklan adalah dengan formulasi berikut:
Peckhan telah mempelajari hubungan antara bagian dari suara (share of voice) dan pangsa pasar (share of market) untuk beberapa consumer product dan menemukan rasio 1 banding 1 untuk produk yang sudah mapan dan rasio 1,5 sampai 2 banding 1 untuk produk baru.

Cara menentukan efektivitas iklan adalah sebagai berikut:
Jika ada tiga perusahaan A, B dan C. Pangsa pasar dibagi dengan share of voice (share of voice adalah pengeluaran iklan perusahaan dibagi dengan pengeluaran iklan industri) menghasilkan efektivitas iklan. Setelah dibandingkan ternyata efektivitas iklan perusahaan A adalah yang terkecil (pangsa pasar kurang dari share of voice), diikuti B (pangsa pasar sama dengan share of voice) dan yang paling efektif adalah C (pangsa pasar lebih dari share of voice).

Kesimpulannya:
* Jika pangsa pasar kurang dari share of voice, maka perusahaan telah overspending atau misspending dalam beriklan.
* Jika pangsa pasar sama dengan share of voice, maka perusahaan sudah efisien dalam beriklan.
* Jika pangsa pasar lebih dari share of voice, maka perusahaan super efisien dalam beriklan.

Peneliti mencoba mengukur pengaruh terhadap penjualan dengan menganalisa data historis atau data eksperimen:

1. Pendekatan historis (historical approach) mengkorelasikan penjualan yang lalu dengan pengeluaran iklan yang lalu pada satu basis sekarang atau diberi lag (tenggang waktu) melalui teknik statistik yang canggih untuk mengukur efek iklan terhadap penjualan.

2. Pendekatan eksperimen (experimental design) mencoba bereksperimen melalui cara percobaan pengeluaran yang tinggi (high-spending tests) dan percobaan pengeluaran yang rendah (low-spending tests). Jika high-spending tests menghasilkan peningkatan penjualan yang banyak maka perusahaan nampaknya underspending dalam beriklan. Jika high-spending tests gagal untuk meningkatkan penjualan dan jika low-spending tests tidak menurunkan penjualan, maka perusahaan telah overspending. Jika high-spending tests gagal meningkatkan penjualan dan low-spending tests malah menurunkan penjualan berarti perusahaan sudah efisien dalam beriklan.

Sumber : http://jf-bohemiancry.blogspot.com/


Baca artikel selengkapnya ....

Menentukan Efektivitas Penyampaian Pesan

Efektifitas penyampaian pesan ditentukan oleh beberapa hal, yakni strategi pesan, pelaksanaan pesan, tone dan format pesan.

Strategi Pesan, meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1. Memutuskan pesan umum apa yang akan dikomunikasikan.
2. Mengidentifikasi manfaat-manfaat bagi pelanggan yang dapat digunakan sebagai daya tarik pemasangan iklan.
3. Menciptakan konsep kreatif yang kuat. Ini mencakup tampilan iklan.
4. Menciptakan daya tarik khusus yang akan digunakan dalam kampanye pemasangan iklan. Daya tarik iklan harus memiliki tiga sifat yakni meaningful (berarti), believable (dapat dipercaya) dan distinctive (khas).

Pelaksanaan Pesan, bisa dalam berbagai gaya di antaranya :
1. Potongan kehidupan (slice of life). Gaya ini menunjukkan satu atau lebih orang khas yang menggunakan produk dalam situasi normal.
2. Gaya hidup (life style). Gaya ini menunjukkan kecocokan sebuah produk dengan gaya hidup tertentu.
3. Fantasi. Gaya ini menciptakan fantasi di sekitar produk atau kegunaannya.
4. Suasana hati atau citra (mood or image). Gaya ini menciptakan suasana hati atau citra di sekitar produk.
5. Musikal (musical). Gaya ini menunjukkan satu atau lebih orang atau tokoh orang atau kartun yang menyanyikan lagu tentang produk tersebut.
6. Simbol kepribadian (personality symbol). Gaya ini menciptakan tokoh yang mewakili produk.
7. Keahlian tehnis (technical espertise). Gaya ini menunjukkan keahlian perusahaan dalam menghasilkan produk.
8. Bukti ilmiah (scientific evidence). Gaya ini menampilkan hasil survei atau buku ilmiah tentang keunggulan produk.
9. Bukti atau dukungan testimonial. Gaya ini menampilkan sumber yang sangat dapat dipercaya dan disukai yang mendukung produk tersebut.

Tone dalam iklan jelas diperlukan. Iklan yang dibuat harus menggunakan kata-kata yang mudah dan terutama menarik perhatian. Riset menunjukkan, konsumen cenderung mudah mengingat sebuah produk hanya karena tone iklannya yang menarik.

Format, unsur yang juga berdampak besar pada kualitas penayangan iklan. Perubahan kecil pada format design iklan misalnya, bisa melahirkan dampak sangat besar.

Beberapa hal yang harus dilihat alam penentuan format iklan adalah:
1. Ilustrasi (illustration), harus cukup kuat agar bisa menarik perhatian audience.
2. Judul (headline) harus secara efektif menarik orang yang tepat bersedia membaca teksnya.
3. Teks (copy), bagian utama tulisan iklan, harus sederhana tetapi kuat dan meyakinkan.


Baca artikel selengkapnya ....

Prinsip dalam Membuat Iklan yang Efektif

Monday, January 2, 2012

Ada beberapa variabel atau faktor yang perlu dipertimbangkan ketika membuat sebuah iklan. Faktor-faktor tersebut adalah pemborosan, jangkauan, frekuensi, lamanya pesan, dampak persuasif dan clutter.

Pemborosan merupakan bagian dari pemirsa yang bukan menjadi target pasar perusahaan. Karena media masa menarik pemirsa, pemborosan menjadi faktor yang signifikan dalam pemasangan iklan. Sebagai contoh, perusahaan berencana untuk memasang iklan kamera digital baru di majalah khusus untuk para fotografer pemula.

Berdasarkan penelitian, perusahaan menemukan bahwa 450.000 pembaca akan memiliki ketertarikan pada kamera baru, dan 50.000 lainnya tidak akan tertarik. Yang terakhirlah yang mewakili pemborosan untuk iklan pada film tersebut.

Jangkauan mengacu pada jumlah penonton atau pembaca di antara para pemirsa. Untuk televisi dan radio, jangkauan merupakan jumlah total orang-orang yang terpapar iklan. Untuk media cetak, jangkauan memiliki dua komponen, yaitu sirkulasi dan tingkat passalong. Sirkulasi adalah jumlah salinan yang terjual atau didistribusikan ke pelanggan. Tingkat passalong adalah jumlah setiap salinan yang ditempatkan di pembaca lain. Sebagai contoh, setiap salinan Newsweek yang dibaca oleh sekitar 6 orang.

Frekuensi adalah seberapa sering media dapat digunakan. Yang terbesar adalah surat kabar, radio, dan televisi, dimana iklan dapat muncul setiap hari dan strategi iklan dapat diubah dengan mudah. Frekuensi yang paling sedikit adalah penggunaan direktori telepon, iklan di luar, dan majalah. Iklan di Yellow Pages dapat dipasang dan diubah hanya sekali per tahunnya.

Pesan permanen mengacu pada jumlah eksposur yang dihasilkan satu iklan dan seberapa lama hal tersebut bertahan dengan penonton. Iklan luar ruangan, iklan transit, dan direktori telepon menghasilkan banyak eksposur untuk setiap iklannya. Sebagai tambahan, banyak majalah yang tetap bertahan dengan pelanggannya untuk jangka waktu yang lama. Di sisi lain, iklan radio dan televisi hanya bertahan selama 5 sampai 60 detik dan setelah itu berakhir.

Pengaruh persuasif adalah kemampuan media untuk merangsang konsumen. Televisi seringkali memiliki pengaruh persuasif yang tinggi karena mampu menggabungkan suara, video, warna, animasi, dan tampilan lainnya. Majalah juga memiliki pengaruh persuasif yang tinggi. Banyak surat kabar yang meningkatkan teknologinya untuk memberikan fitur iklan berwarna dan meningkatkan pengaruh persuasif mereka.

Clutter melibatkan jumlah iklan yang terkandung dalam sebuah program tunggal, dan lain-lain dari sebuah media. Clutter bernilai rendah jika jumlah iklan yang disajikan terbatas, seperti Hallmark menempatkan beberapa iklan yang tersebar di beberapa televisi spesial.

Clutter bernilai tinggi jika banyak iklan yang disajikan, seperti sejumlah besar iklan supermarket pada surat kabar khusus edisi hari Rabu. Jaringan televisi yang dikritik karena mengijinkan terlalu banyak clutter, terutama yang memungkinkan perusahaan untuk mensponsori iklan yang sangat singkat (misalnya 15 detik atau lebih cepat), kini semakin meningkat.

Referensi:
Joel R. Evans and Barry Berman, Marketing in the 21st Century, Atomic Dog Publishing.
Sumber : http://ahlimanajemenpemasaran.com/2011/07/prinsip-dalam-membuat-iklan-yang-efektif/


Baca artikel selengkapnya ....

Cara untuk Membuat Iklan yang Efektif

Tuesday, September 13, 2011

Para ahli setuju bahwa selama beberapa aspek iklan adalah sama untuk barang dan jasa, karakteristik spesial layanan memerlukan strategi tambahan untuk membuat iklan layanan menjadi lebih efektif. Yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut.

• Menampilkan informasi yang hidup. Pemasang iklan harus menggunakan informasi yang menciptakan kesan yang kuat dalam hati dan menghasilkan gambaran mental yang berbeda. Satu cara untuk menggunakan informasi yang hidup adalah untuk membangkitkan emosi yang kuat, seperti keberhasilan AT&T mengkampanyekan “Menjangkau dan Menyentuh Seseorang”. Menggunakan isyarat informasi yang hidup terutama diinginkan ketika layanan adalah sesuatu yang sangat tidak terwujud dan kompleks.

• Gunakan citra interaktif. Salah satu jenis gambaran yang hidup melibatkan apa yang dinamakan citra interaktif. Citra, didefinisikan sebagai peristiwa mental yang melibatkan visualisasi konsep atau hubungan, yang dapat meningkatkan ingatan akan nama dan fakta-fakta tentang layanan.

Citra interaktif mengintegrasikan dua atau lebih item dalam beberapa tindakan, yang menghasilkan ingatan yang meningkat. Beberapa perusahaan jasa secara efektif mengintegrasikan logo atau simbol mereka dengan ekspresi dari apa yang mereka lakukan, seperti batu Prudential – gambaran batu adalah benda padat, dan kesan yang dirancang untuk dibawa ke perusahaan jasa.

• Fokus pada bukti. Cara lain agar pemasang iklan dapat meningkatkan efektivitas komunikasi jasa adalah fitur bukti langsung yang berkaitan dengan jasa, seperti menunjukkan kolom akun bank atau kartu kredit emas. Karena jasa adalah abstrak, yang seringkali susah untuk dikomunikasikan dengan jelas.

Menunjukkan bukti dapat memberikan petunjuk secara langsung tentang sifat dan kualitas layanan.

• Fitur karyawan jasa dalam komunikasi. Pelanggan menghubungi petugas merupakan pemirsa kedua yang penting dalam iklan layanan. Menampilkan karyawan yang sedang melakukan pekerjaannya atau menjelaskan layanannya dalam iklan merupakan hal yang efektif baik bagi penonton utama (pelanggan) maupun penonton sekunder (karyawan) karena dengan ini dapat mengkomunikasikan kepada karyawan bahwa mereka adalah penting.

Lebih jauh lagi, ketika karyawan yang melakukan jasa dengan baik ditampilkan dalam iklan, mereka akan menjadi standar bagi prilaku karyawan lainnya.

• Janjikan apa yang mungkin. Sejalan dengan strategi-strategi yang kita diskusikan pada sesi berikutnya, semua komunikasi jasa harus menjanjikan hanya apa yang mungkin dan tidak mencoba untuk membuat layanan yang lebih menarik dari yang sebenarnya dimiliki.

Banyak perusahaan yang berharap menciptakan layanan yang baik dan memimpin dengan iklan yang bagus, tapi strategi ini dapat menjadi bumerang bagi mereka ketika layanan yang sebenarnya tidak dapat dilakukan sesuai yang dijanjikan pada iklan.

• Mendorong komunikasi kata-kata dari mulut. Karena layanan seringkali berdasarkan banyaknya pengalaman dan sifat kepercayaan, orang-orang seringkali pindah ke informasi yang lain daripada ke saluran pemasaran tradisional. Iklan yang menghasilkan pembicaraan karena lucu, menarik dan unik dapat menjadi lebih efektif. Komunikasi dan relasi publik serta sponsor acara, seperti NASCAR, juga dapat menghasilkan pesan kata-kata dari mulut yang positif.

• Fitur layanan pelanggan. Iklan yang menampilkan testimonial pelanggan layanan yang sebenarnya mensimulasikan komunikasi personal antara orang-orang dan sehingga menjadi cara yang dapat diandalkan untuk mengkomunikasikan manfaat dari layanan. Arahan dari pelanggan yang puas telah digunakan sejak lama dalam penjualan personal untuk mendapatkan kepercayaan yang diperlukan oleh pelanggan baru untuk membeli layangan yang mungkin memperlihatkan resiko.

Sumber Referensi:
Valerie Zeithaml, Mary Jo Bitner, and Dwayne Gremler, Services Marketing, McGraw Hill.
http://ahlimanajemenpemasaran.com/2011/07/cara-untuk-membuat-iklan-yang-efektif/
.


Baca artikel selengkapnya ....

Adakah yang Lebih Efektif dari Beriklan di TV?

Tuesday, June 21, 2011

Iklan dalam bisnis adalah hal yang tak terpisahkan. Untuk beriklan, perusahaan tak segan mengeluarkan anggaran sebanyak-banyaknya. Berdasarkan penelitian dari para pakar bisnis, biaya promosi, termasuk iklan di dalamnya bisa mencapai 80 persen dari biaya produksi. Sebagian pebisnis menganggap iklan TV sebagai media beriklan yang paling tepat. Seberapa efektif iklan yang kita tayangkan di TV? Pertanyaan berikutnya adalah, adakah media iklan yang jauh lebih efektif dari iklan TV? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bahas lebih mendalam. Iklan TV akan sangat efektif manakala spot iklan tersebut ditayangkan di waktu primer siaran TV, sekitar pukul 19.00 hingga pukul 22.00. Jam tersebut merupakan jam primadona siaran TV di mana diasumsikan penonton terkonsentrasi pada jam tersebut.

Sayang sekali, kebiasaan penonton TV di Indonesia adalah memilih memindah TV ke saluran lain di saat iklan ditayangkan. Efektivitas iklan TV sangat dipertanyakan di sini mengingat biaya pasang iklan pada waktu primer jelas sangat mahal dibanding waktu lain. Mengingat efektivitas iklan TV yang meragukan, lantas alternatif beriklan seperti apa yang bisa ditempuh oleh pengusaha? Salah satu metode iklan yang dianggap cukup efektif adalah ber iklan dengan pamflet. Tentu, untuk meningkatkan efektivitas dari pamflet ini, pengusaha perlu sedikit lebih kreatif. Anda dapat menyertakan program diskon khusus dengan menunjukkan pamflet tersebut. Cara ini dipandang memiliki efektivitas lebih baik dibandingkan tingkat efektivitas iklan tv.

Menggunakan pamflet jauh lebih efektif dibanding dengan memasang iklan di TV karena beberapa hal. Pertama, biaya pasang iklan di TV jauh lebih mahal dibanding biaya pembuatan pamflet. Kedua, durasi iklan di TV hanya beberapa detik, sementara pamflet bisa bertahan jauh lebih lama. Ketiga, iklan di TV hanya bisa dilihat saat calon konsumen menonton TV, sementara pamflet bisa diberikan pada siapa saja dan di mana saja. Jadi, daripada Anda menghabiskan banyak anggaran promosi hanya untuk biaya pasang iklan di TV, akan lebih baik Anda mengalihkan dana pasang iklan tersebut pada metode beriklan yang lain, dengan menggunakan pamflet. Biaya pembuatan pamflet serta biaya penyebarannya jauh lebih murah dibanding biaya pasang iklan di TV.

Sumber : http://bengkelbisnis.com/pemasaran/adakah-yang-lebih-efektif-dari-beriklan-di-tv/
.


Baca artikel selengkapnya ....

Mengukur Efektifitas Iklan Televisi

Saturday, May 21, 2011

Pertanyaan:
Saya ingin mengetahui tentang upaya untuk mengukur efektivitas media iklan lewat baliho dan sebagainya. Yang saya ingin tanyakan bagaimana cara mengukur efektivitas sebuah iklan pada televisi, dengan tahap Attention, Interest, Desire, Action? apakah ada persentase yang baku untuk dijadikan tolak ukur bahwa iklan itu efektif? (missal 60 persen lebih dikatakan efektif dsb)? apakah dari segi Action bagaimana efektivitas iklan diukur? Mohon pencerahan.
Terima kasih -Taufik

Jawaban:
Pada dasarnya, interpretasi atas pengukuran efektivitas iklan melalui respons konsumen sangat dinamis.

Apa yang didefinisikan sebagai "tingkat efektivitas" tidak hanya tergantung dari besarnya angka frekuensi yang didapatkan (misalnya 60 persen seperti ilustrasi pada email Anda tadi) melainkan juga dari jenis produknya dan obyektif pemasaran.

Misalnya, untuk produk spesifik seperti produk IT (server misalnya) atau mobil, respons action sebesar 40 persen bisa dapat dikatakan efektif. Tetapi untuk produk consumer goods bisa jadi untuk dikategorikan efektif paling tidak harus mencapai 70 persen.

Kemudian dari sisi obyektif marketing, untuk produk dalam level maintaining dan dalam level launching tentu interpretasi efektivitasnya akan berbeda bukan. Untuk produk yang melakukan maintaining brand bisa saja tingkat attention 50 persen terhadap iklan sudah cukup karena brandnya sudah dikenal. Tetapi untuk produk dalam taraf launching, tentu tingkat responsnya harus lebih dari 50 persen untuk bisa efektif.

Tetapi ada solusi ringkas untuk melakukan interpretasi efektivitas, yaitu kita dapat membandingkan langsung antara respons konsumen terhadap produk kita dengan produk kompetitor dengan membuat indeks dalam pengukuran efektivitas. Jadi dari indeks tersebut dapat diketahui, apakah respons terhadap produk kita lebih baik atau lebih jelek daripada kompetitor.

Sementara tanggapan itu yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan diskusi ini bermanfaat bagi kita semua.

Sumber : http://bmicg.multiply.com/
.


Baca artikel selengkapnya ....

Tips Membuat Iklan Baris Yang Efektif

Saturday, February 5, 2011

Apakah Anda punya produk untuk dijual di internet? Atau mungkin Anda menjadi reseller produk orang atau perusahaan lain? Mau tidak mau Anda harus mengiklankan produk tersebut, karena kalau tidak berarti tidak akan ada penjualan. Sama dengan tidak ada bisnis.

Beriklan tidaklah harus mengeluarkan banyak uang. Bahkan saat ini banyak media iklan baris online yang menyediakan fasilitas gratis untuk beriklan, salah satunya adalah iklanbaris.co.id. Sayangnya masih banyak orang yang tidak bisa memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik.

Seperti Anda ketahui, iklan baris hanya menyediakan ruang yang sempit untuk iklan Anda, mungkin hanya beberapa baris iklan. Dengan ruang yang begitu sempit, bagaimana membuat iklan Anda mendapat perhatian dari pengunjung? Di situlah seninya beriklan di iklan baris.

Satu prinsip yang harus Anda ketahui adalah JANGAN MENJUAL di iklan baris. Dengan hanya beberapa kalimat pada iklan baris, tidak cukup informasi bagi pembacanya untuk membuat keputusan untuk membeli atau tidak. Lagi pula pada umumnya orang tidak suka jika mendapati seseorang berusaha menjual sesuatu kepadanya.

Jadi fungsi utama iklan baris adalah membuat pembacanya menjadi PENASARAN dengan produk yang Anda iklankan, sehingga berusaha mencari informasi lebih lanjut tentang produk tersebut. Lihat, kata ‘PENASARAN’ sengaja saya cetak dengan huruf kapital semua.

Pembaca yang penasaran akan menelepon Anda, mengirim e-mail untuk Anda, atau membuka website Anda. Di sanalah dengan penjelasan melalui telepon atau e-mail atau sales letter di website Anda, pembaca tersebut mendapatkan informasi lebih detail tentang produk Anda, sekaligus mengetahui lebih banyak manfaat dan keunggulan produk Anda dibandingkan dengan produk lain sejenis. Dan akhir yang diharapkan adalah mereka memutuskan untuk membeli produk Anda!

Bagaimana caranya?

Berikut ini ada beberapa point yang saya harap dapat membantu Anda :
1. Tunjukkan masalah apa yang dapat diatasi oleh produk tersebut
2. Tunjukkan manfaat dan keunggulan produk tersebut untuk pembaca iklan Anda
3. Tunjukkan nomor telepon, e-mail atau website yang dapat memberi informasi lebih lanjut tentang produk tersebut
4. Jangan mendeskripsikan produk Anda
5. Jangan menyebutkan nama produk Anda
6. Jangan pernah mencantumkan harga produk Anda

Berikut ini adalah sebuah contoh iklan yang buruk :
“Telah terbit sebuah e-book yang mengungkapkan rahasia sukses berbisnis di internet. E-book 120 halaman ini terdiri dari 7 bagian yang akan menuntun Anda step by step. Dapatkan segera hanya dengan 100 Ribu Rupiah. Hubungi : Bule 021-999xxxx”

Mengapa iklan tersebut TIDAK berhasil?
Pertama, iklan tersebut menjelaskan terlalu detail tentang produknya.
Kedua, iklan tersebut tidak fokus pada manfaat dan keunggulan produk
tersebut. Ketiga, yang paling parah, iklan tersebut mencantumkan harga produknya.

Di bawah ini adalah contoh iklan yang berhasil :
“Jika ANDA bisa mengetik, ANDA bisa menghasilkan Jutaan Rupiah dari internet. 3 langkah MUDAH yang telah TERUJI akan menuntun Anda step by step menuju kesuksesan bisnis online. Informasi selengkapnya : http://gemapariwara.blogspot.com”
Anda pasti sepakat dengan saya, bahwa iklan kedua lebih baik dari pada iklan pertama, karena lebih berhasil membuat pembacanya penasaran.

Itulah sedikit guide supaya iklan Anda semakin efektif. Semoga bermanfaat. Selamat beriklan !

Sumber : http://bintangweb.com/
.


Baca artikel selengkapnya ....

Metode ”EPIC Model” Untuk Mengukur Efektifitas Iklan

Saturday, February 20, 2010

Efektivitas iklan dapat diukur dengan menggunakan EPIC model. EPIC model yang dikembangkan oleh AC Nielsen, salah satu perusahaan peneliti pemasaran terkemuka di dunia, mencakup empat dimensi kritis yaitu empati, persuasi, dampak dan komunikasi (Empathy, Persuasion, Impact and Communications – EPIC) berikut:

A. Dimensi Empati (Empathy)
Dimensi empati memberikan informasi yang berharga tentang daya tarik suatu merek. Empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasikan dirinya atau merasa dirinya pada keadaan perasaan atau fikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain, Kamus besar bahasa Indonesia, (1988:228).
Empati melibatkan afeksi dan kognisi konsumen, menurut J.Paul Peter dan Jerry C Olson (1996), afeksi dan kognisi mengacu pada dua tipe tanggapan internal psikologis yang dimiliki konsumen terhadap rangsangan lingkungan dan kejadian yang berlangsung. Dalam bahasa yang lebih sederhana, afeksi melibatkan perasaan, sementara kognisi melibatkan pemikiran, variasi tanggapan afektif dapat berupa penilaian positif, negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan, dan konsumen dapat merasakan empat jenis tanggapan afektif yaitu emosi, perasaan khusus, suasana hati dan evaluasi yang berbeda dalam tingkat intensitas dan daya improvisasinya.
download and
B. Dimensi Persuasi (Persuasion)
Dimensi persuasi menginformasikan apa yang dapat diberikan suatu iklan untuk peningkatan atau penguatan karakter suatu merek, sehingga pemasang iklan memperoleh pemahaman tentang dampak iklan terhadap keinginan konsumen untuk membeli serta memperoleh kemampuan suatu iklan dalam mengembangkan daya tarik suatu merek.
Persuasi (persuasion) adalah perubahan kepercayaan, sikap, dan keinginan berperilaku yang disebabkan satu komunikasi promosi. Komunikasi promosi, seperti periklanan, yang dapat mempengaruhi konsumen dapat menggunakan dua proses kognitif, yaitu : “jalur sentral” dan “Jalur periferal” menuju persuasi. Proses persuasi yang akan dipakai ditentukan dengan tingkat keterlibatan konsumen dalam pesan produk. (Peter dan Olson 1996). Jalur sentral menuju persuasi (central route persuasion) cenderung muncul ketika tingkat keterlibatan konsumen meningkat.
Pada jalur sentral, konsumen “memfokuskan diri pada pesan produk” dalam iklan. Konsumen menerjemahkan pesan produk dalam iklan tersebut, lalu membentuk kepercayaan tentang cirri-ciri dan konsekuensi produk, serta mengintegrasikan makna tersebut untuk membentuk sikap dan keinginan. Jalur periferal menuju persuasi (peripheral route persuasion) cenderung muncul ketika tingkat keterlibatan konsumen lebih rendah. Dalam jalur periferal, konsumen tidak memfokuskan diri pada pesan produk dalam sebuah iklan tetapi pada perangsang “periferal”, seperti selebriti atau musik yang popular dan menarik.

C. Dimensi Dampak (Impact)
Dimensi Impact menunjukkan, apakah suatu merek dapat terlihat menonjol dibandingkan merek lain pada kategori yang serupa dan apakah suatu iklan mampu melibatkan konsumen dalam pesan yang disampaikan. Dampak (impact) yang diinginkan dari hasil iklan adalah jumlah pengetahuan produk (product knowledge) yang dicapai konsumen melalui tingkat keterlibatan (involvement) konsumen dengan produk dan atau proses pemilihan.
Konsumen memiliki tingkat pengetahuan produk (levels of product knowledge) yang berbeda-beda, yang dapat digunakan untuk menerjemahkan informasi baru dan membuat pilihan pembelian. Konsumen dapat memiliki empat tingkat pengetahuan produk, yaitu : kelas produk, bentuk produk, merek, dan model. Selain itu konsumen juga dapat memiliki tiga jenis pengetahuan produk, yaitu pengetahuan tentang ciri atau karakter produk, konsekuensi atau manfaat positif menggunakan produk, dan nilai yang akan dipuaskan atau dicapai suatu produk. Keterlibataan (involvement) mengacu pada persepsi konsumen tentang pentingnya atau relevansi personal suatu objek, kejadian, atau aktifitas. Konsumen yang melihat bahwa suatu produk memiliki konsekuensi yang relevan secara pribadi, maka konsumen dikatakan terlibat dengan produk tersebut dan memiliki hubungan dengan produk tersebut. Konsekuensi dengan suatu produk atau suatu merek memiliki aspek kognitif maupun pengaruh.
Secara kognitif, yang termasuk dalam keterlibatan adalah pengaruh, seperti evaluasi prodduk. Jika keterlibatan suatu produk tinggi, maka orang akan mengalami tanggapan pengaruh yang lebih kuat, seperti emosi dan perasaan yang kuat. Keterlibatan dapat berkisar dari tingkat yang rendah – sedikit atau tidak ada relevansinya – ketingkat yang moderat – ada relevansi yang dirasakan – hingga ke tingkat yang tinggi – relevansinya sangat dirasakan. Keterlibatan adalah status motivasi yang menggerakkan serta mengarahkan proses kognitif dan perilaku konsumen pada saat mereka membuat keputusan.

D. Dimensi Komunikasi
Dimensi komunikasi memberikan informasi tentang kemampuan konsumen dalam mengingat pesan utama yang disampaikan, pemahaman konsumen, serta kekuatan kesan yang ditinggalkan pesan tersebut. Perspektif pemrosesan kognitif adalah inti untuk mengembangkan strategi pemasaran yang berhasil yang merupakan permasalahan komunikasi.
Proses dimulai ketika sumber komunikasi promosi menentukan informasi apa yang harus dikomunikasikan, kemudian meng-enkoding pesan tersebut dalam bentuk simbol-simbol yang paling tepat (menggunakan kata, gambar, atau tindakan). Kemudian, pesan ditransmisikan ke sebuah penerima melalui berbagai media, seperti pertunjukan televisi, penawaran via pos, billboard, atau majalah. Penerima atau konsumen, jika digiring ke suatu promosi, harus men-dekoding atau menerjemahkan maknanya. Kemudian, konsumen dapat mengambil tindakan, seperti pergi ke toko atau melakukan pembelian. Dua tahapan model komunikasi sangat dibutuhkan, khususnya demi keberhasilan penerapan strategi promosi. Tahapan pertama terjadi ketika pemasar menciptakan komunikasi promosi untuk meng-enkoding suatu makna. Tahap kedua adalah pen-dekoding-an, yaitu konsumen masuk dan memahami informasi dalam komunikasi promosi dan mengembangkan interpretasi pribadi mereka terhadap makna yang ditangkap.

BAHAN PUSTAKA:
1. Darmadi Durianto,Sugiarto,Anton.W.Widajaj,Hendrawan.S. Invasi Pasar Dengan Iklan Yang Efektif, PT.Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2003
2. J. Paul Peter dan Jerry C.Olson, 1996, Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran, Jakarta
3. Nielsen, AC. EPIC Dimensions of advertising Effectiveness.AC Nielsen Ads@work 2000.


Baca artikel selengkapnya ....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Academics Blogs Academics Top Blogs blogarama - the blog directory Submit your website to 20 Search Engines - FREE with ineedhits! Media Promosi

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP